LATEST POSTS

Ketika Perbedaan Bukan Masalah: Cerita Toleransi Shasya Rajendra



Oleh Sri Wahyuni

Shasya Rajendra merupakan individu yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat yang majemuk. Lahir dan besar di Kota Bandung, Shasya menjalani proses pendidikan di institusi yang beragam, mulai dari SD Merdeka, SMP Negeri 28, SMA swasta BPI, hingga melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran melalui jalur diploma dan ekstensi di Widyatama. Lingkungan pendidikan dan sosial yang plural tersebut membentuk cara pandangnya terhadap keberagaman agama, budaya, dan nilai-nilai sosial.

Dalam pengalaman hidupnya, Shasya menyampaikan bahwa hingga saat ini ia tidak pernah merasakan konflik nilai agama secara langsung dalam relasi lintas agama. Perbedaan antara Islam, Kristen, Buddha, maupun keyakinan lainnya tidak pernah ia rasakan sebagai sumber pertentangan. Justru, relasi lintas agama berjalan secara harmonis dengan mengedepankan sikap saling menghormati dan toleransi. Bagi Shasya, perbedaan keyakinan merupakan kenyataan sosial yang wajar dan tidak perlu dipertentangkan.

Menariknya, menurut Shasya, konflik yang kerap muncul dalam masyarakat justru sering kali terjadi bukan antaragama, melainkan di dalam agama yang sama. Ia menyoroti adanya perbedaan praktik keagamaan, kebiasaan, maupun mazhab—seperti perbedaan penggunaan qunut, penyebutan tertentu dalam doa, dan tradisi ibadah lainnya—yang terkadang memicu ketegangan antar sesama pemeluk agama. Dalam pandangannya, konflik semacam ini menjadi ironi yang patut dikaji secara lebih mendalam, khususnya oleh kalangan akademisi, karena bertentangan dengan nilai dasar agama yang menjunjung perdamaian dan persaudaraan.

Dalam menyikapi keberagaman, Shasya memegang teguh nilai toleransi yang sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Ia meyakini bahwa sebagai warga negara Indonesia, sikap toleran bukan hanya pilihan moral, melainkan tanggung jawab sosial. Ia menekankan pentingnya menghargai perbedaan agama, kepercayaan, budaya, dan bahasa sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia yang plural.

Komitmen Shasya terhadap nilai toleransi juga tercermin melalui keterlibatannya dalam organisasi Gerakan Pemuda Ansor, yang memiliki visi dan misi menegakkan toleransi demi persatuan. Melalui organisasi tersebut, Shasya terlibat langsung dalam praktik toleransi nyata di masyarakat, salah satunya dengan ikut menjaga dan mendukung kelancaran perayaan Natal di gereja bersama rekan-rekan yang berbeda keyakinan. Bagi Shasya, tindakan sederhana seperti saling membantu dan menjaga keamanan dalam perayaan keagamaan merupakan wujud toleransi yang paling nyata dan bermakna.

Belajar Toleransi dari Cerita Iman Sri Wahyuni alias Enci

Oleh: Syarif Hidayatullah

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk. Keberagaman agama, budaya, dan latar belakang sosial menjadi realitas sehari-hari yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Namun, di tengah kemajemukan itu, toleransi sering kali hanya berhenti sebagai slogan, belum sepenuhnya hidup dalam praktik keseharian. Di sinilah kisah iman Sri Wahyuni, atau yang akrab disapa Enci, memberi pelajaran berharga tentang makna toleransi yang tumbuh dari pengalaman hidup.

Sejak kecil, Enci tumbuh di lingkungan yang beragam. Ia terbiasa berinteraksi dengan teman-teman dari latar belakang agama yang berbeda, baik di sekolah maupun dalam pergaulan sosial. Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap iman dan keberagaman. Bagi Enci, perbedaan keyakinan bukanlah ancaman, melainkan kenyataan hidup yang perlu disikapi dengan kedewasaan dan rasa saling menghormati.

Iman, dalam pandangan Enci, tidak berdiri sebagai identitas yang kaku dan eksklusif. Ia memaknainya sebagai proses yang terus bertumbuh seiring perjalanan hidup. Keyakinan agama justru menjadi sumber nilai yang menuntun sikap empati, keterbukaan, dan penghargaan terhadap sesama. Dari sini, toleransi tidak lahir dari paksaan atau formalitas, tetapi tumbuh secara alami dari kesadaran kemanusiaan.

Pengalaman Enci bergaul dalam komunitas yang multireligius semakin memperkaya pemahamannya. Ia merasakan bagaimana diterima tanpa label agama menciptakan rasa aman dan kepercayaan. Relasi lintas agama yang terbangun tidak selalu melalui dialog formal atau diskusi teologis, melainkan melalui interaksi sederhana: bekerja sama, berbincang santai, dan saling mendengarkan. Justru dari relasi sehari-hari inilah toleransi menemukan bentuknya yang paling nyata.

Kisah Enci menunjukkan bahwa toleransi bukan berarti mengaburkan iman atau melemahkan keyakinan. Sebaliknya, iman yang dipahami secara dewasa justru mendorong seseorang untuk bersikap lebih humanis. Enci tetap teguh pada keyakinannya, namun pada saat yang sama mampu menghormati keyakinan orang lain. Di sinilah toleransi menemukan maknanya sebagai sikap aktif untuk menjaga relasi yang harmonis di tengah perbedaan.

Di tengah maraknya polarisasi dan narasi kebencian yang kerap mewarnai ruang publik, cerita iman Enci menjadi pengingat bahwa toleransi dapat dipelajari dari pengalaman hidup yang sederhana. Toleransi tidak selalu lahir dari wacana besar, tetapi dari kesediaan untuk melihat orang lain sebagai sesama manusia, bukan semata sebagai "yang berbeda".

Belajar dari kisah Enci, kita diajak untuk merefleksikan kembali cara kita memaknai iman dan keberagaman. Apakah iman kita mendekatkan atau justru menjauhkan kita dari sesama? Toleransi sejatinya bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang bagaimana kita bisa hidup berdampingan secara bermartabat. Dan dari cerita iman Enci, kita belajar bahwa toleransi yang tulus selalu berangkat dari kemanusiaan.

UIN Bandung Peringati Hari Amal Bhakti Kemenag ke-80, Tegaskan Kerukunan sebagai Energi Kebangsaan

Vokaloka, Bandung - UIN Sunan Gunung Djati Bandung memperingati Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama di Lapang Guest House Kampus 2, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Sabtu (3/1/2026).

Upacara ini dipimpin oleh Rektor dan dihadiri oleh Ketua dan Sekretaris Senat, para Wakil Rektor, para Kepala Biro, Direktur serta Wakil Direktur I, II, dan III Pascasarjana, para Dekan dan Wakil Dekan I, II, dan III, Kepala dan Sekretaris Satuan Pengawasan Internal (SPI), para Ketua dan Sekretaris Lembaga, para Kepala dan Sekretaris Pusat, Wakil Koordinator, Sekretaris, Kepala Bidang, dan Sekretaris Bidang pada Kopertais, para Ketua dan Sekretaris Jurusan/Program Studi jenjang S1, S2, dan S3, para Ketua Laboratorium Fakultas, para Kepala Bagian dan Ketua Tim Kerja, para Kepala Subbagian, serta para Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang meliputi PNS, PPPK, BLU, dan tenaga kontrak, serta Dharma Wanita Persatuan di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dalam sambutannya, Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag menyampaikan amanat Menteri Agama Prof. Nazarudin Umar. Menag menegaskan bahwa peringatan HAB ke-80 Kementerian Agama mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju” sebagai arah gerak bersama, sekaligus penegasan bahwa kerukunan harus dipahami sebagai energi kebangsaan yang produktif.

“Tema ini menegaskan bahwa kerukunan bukan sekedar ketiadaan konflik, melainkan sebuah energi kebangsaan. Kerukunan adalah sinergi yang produktif, di mana perbedaan identitas, keyakinan, dan latar belakang sosial dilanjut menjadi kekuatan kolaborasi untuk menggerakkan kemajuan bangsa,” ujar Prof. Nazarudin Umar dalam amanat yang dibacakan Rektor.

Menag juga mengulas akar historis Kementerian Agama yang hadir sebagai kebutuhan nyata bangsa yang majemuk. Ia menekankan bahwa republik ini dibangun melalui sinergi seluruh komponen bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan, sehingga Kemenag berperan menjaga nalar agama dalam bingkai kebangsaan sekaligus membina kehidupan keagamaan yang damai serta mendorong terwujudnya masyarakat yang adil, rukun, dan sejahtera.

“Kementerian Agama didirikan sebagai penjaga dan nalar agama dalam bingkai kebangsaan. Kini peran tersebut semakin luas dan semakin krusial: meningkatkan kualitas pendidikan agama dan keagamaan, merawat kerukunan umat beragama yang berlandaskan cinta kemanusiaan, memberdayakan ekonomi umat, serta memastikan agama hadir sebagai sumber solusi bagi persoalan bangsa,” kata Prof. Nazarudin Umar.

Sepanjang 2025, Kementerian Agama disebut telah membangun pondasi Kemenag berdampak melalui kerja nyata yang mulai dirasakan masyarakat. Menag menyinggung transformasi digital untuk mempercepat layanan keagamaan, penguatan ekonomi umat melalui pesantren dan filantropi keagamaan seperti zakat, wakaf, infak, sedekah, dan program sejenis, peningkatan kualitas madrasah serta perguruan tinggi keagamaan, hingga penguatan praktik kerukunan lewat program “Desa Sadar Kerukunan” agar kerukunan hadir nyata di tengah masyarakat.

Menghadapi tantangan kecerdasan buatan (AI) yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian, Menag menekankan pentingnya kedaulatan literasi dan keilmuan agar institusi keagamaan tidak sekadar menjadi penonton.

 “Menghadapi tantangan besar bernama AI atau kecerdasan buatan, kita hidup di era yang berlangsung cepat, sulit diprediksi, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Di era ini kita tidak boleh sekedar menjadi penonton. Setiap ASN Kementerian Agama dituntut bertransformasi menjadi pribadi yang lincah dan sigas, adaptif, terbuka terhadap teknologi dan inovasi, serta responsif melayani kebutuhan umat dengan empati dan integritas,” tegasnya.

Menutup amanatnya, Prof. Nazarudin Umar mengajak seluruh jajaran Kementerian Agama memperkuat pondasi pengabdian yang berdampak dan penguasaan teknologi yang beretika, seraya menyerukan, “Teruslah mengabdi, teruslah menjadi cahaya cerah bangsa.”

Pengurus Al-Washliyah Jawa Barat Hadiri Doa Bersama Lintas Agama Pemerintah Provinsi Jawa Barat


Vokaloka, Bandung- PENGURUS Wilayah Al-Jam'iyatul Washliyah Jawa Barat menghadiri Doa Bersama Lintas Agama yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Bale Gemah Ripah (Aula Barat) Gedung Sate, Jalan Diponegoro No. 22, Kota Bandung, Rabu (31/12/2025). Kegiatan ini digelar sebagai momentum pergantian tahun menuju 2026 dengan semangat memperkuat perdamaian, solidaritas, dan kerukunan umat beragama di Jawa Barat.

Kegiatan Doa Bersama Lintas Agama ini juga dirangkaikan dengan agenda Pemantauan Malam Tahun Baru 2026 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Acara dihadiri unsur FORKOPIMDA Provinsi Jawa Barat, pimpinan perangkat daerah Provinsi Jawa Barat, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, serta berbagai organisasi masyarakat (ormas) Islam tingkat provinsi, di antaranya MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Mathlaul Anwar, Persatuan Islam, Syarikat Islam, Jam’iyatul Washliyah, Dewan Masjid Indonesia, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Persatuan Umat Islam, Badan Amil Zakat Nasional, dan Ketua DKM Masjid Raya Al Jabbar.

Dari unsur lintas agama hadir perwakilan Keuskupan, PGI, PGPI, PGLII, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), serta Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).

Dalam sambutannya, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si., menekankan bahwa Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki potensi bencana cukup tinggi sehingga kewaspadaan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting.

Ia menegaskan bahwa penutupan tahun 2025 perlu diisi dengan refleksi, syukur, dan ikhtiar bersama untuk menyongsong 2026 dengan sikap lebih waspada sekaligus optimistis.

“Jawa Barat adalah provinsi yang rawan bencana. Di 27 kabupaten/kota terus kami pantau berbagai potensi kerawanan. Semoga dengan penutup tahun 2025 ini kita diberkahi atas seluruh aktivitas yang sudah dilaksanakan, dan menyambut tahun baru 2026 dengan kesabaran, kewaspadaan, serta semangat memperkuat kebersamaan,” ujar Herman Suryatman.

Sekda Jabar juga menyampaikan refleksi singkat mengenai perkembangan Jawa Barat sepanjang 2025, setelah satu tahun periode kepemimpinan Gubernur Kang Dedi Mulyadi (KDM), dengan menyinggung sejumlah capaian pembangunan dan penguatan layanan publik.

Pada kesempatan yang sama, Ustaz Asep Sudarman menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya kolaborasi semua unsur masyarakat dalam menyelesaikan persoalan di Jawa Barat. Ia menilai, sinergi antara ulama, umara, kalangan dermawan, dan kelompok masyarakat kecil menjadi kunci terciptanya masyarakat yang lebih baik.

Dalam ceramahnya, ia mengutip sebuah hadits tentang peran empat kelompok dalam menguatkan peradaban.

“Hebatnya dunia karena empat hal: karena ilmunya para ulama, adilnya para umara, dermawannya orang-orang kaya, dan doanya orang-orang miskin,” tutur Ustaz Asep.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama lintas agama yang dipimpin tokoh agama dari enam agama resmi di Indonesia. Perwakilan dari kalangan Islam dipimpin oleh Ustaz Dr. H. Tata Sukayat, M.Ag., Ketua DKM Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat.

Dari unsur Al-Washliyah, hadir Sekretaris Pengurus Wilayah Al-Jam'iyatul Washliyah Jawa Barat, Dr. Dadan F. Ramdhan, M.Pd. Ia menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan ini yang dinilainya sebagai forum penting untuk menjaga kondusivitas sosial di Jawa Barat.

Menurutnya, kegiatan doa bersama lintas agama ini menunjukkan bahwa kerukunan dapat dibangun melalui ruang dialog spiritual yang inklusif.

“Kami mengapresiasi inisiatif Pemprov Jawa Barat yang mengundang berbagai unsur agama untuk berdoa bersama. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk merawat suasana kondusif, mencegah gesekan sosial, dan memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk,” ungkap Dr. Dadan F. Ramdhan.

Sementara itu, Dr. Uwes Fatoni, M.Ag., Ketua Bidang Dakwah PW Al-Jam'iatul Washliyah Jawa Barat, menyatakan harapannya agar kegiatan semacam ini tidak berhenti pada seremoni pergantian tahun semata, tetapi menjadi tradisi yang mengiringi agenda pembangunan daerah.

Ia menekankan bahwa kebersamaan lintas agama merupakan modal sosial yang besar bagi pembangunan Jawa Barat.

“Kami berharap kegiatan doa lintas agama ini semakin memperteguh kebersamaan rakyat Jawa Barat dalam membangun daerahnya di tahun 2026. Perbedaan agama dan keyakinan bukan penghalang, tetapi justru kekuatan jika dikelola dengan bijaksana,” ujar Dr. Uwes Fatoni.

Pengurus Al-Washliyah Jawa Barat Hadiri Doa Bersama Lintas Agama Provinsi Jawa Barat


Vokaloka, Bandung- PENGURUS Wilayah Al-Jam'iyatul Washliyah Jawa Barat menghadiri Doa Bersama Lintas Agama yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Bale Gemah Ripah (Aula Barat) Gedung Sate, Jalan Diponegoro No. 22, Kota Bandung, Rabu (31/12/2025). Kegiatan ini digelar sebagai momentum pergantian tahun menuju 2026 dengan semangat memperkuat perdamaian, solidaritas, dan kerukunan umat beragama di Jawa Barat.

Kegiatan Doa Bersama Lintas Agama ini juga dirangkaikan dengan agenda Pemantauan Malam Tahun Baru 2026 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Acara dihadiri unsur FORKOPIMDA Provinsi Jawa Barat, pimpinan perangkat daerah Provinsi Jawa Barat, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, serta berbagai organisasi masyarakat (ormas) Islam tingkat provinsi, di antaranya MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Mathlaul Anwar, Persatuan Islam, Syarikat Islam, Jam'iyatul Washliyah, Dewan Masjid Indonesia, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Persatuan Umat Islam, Badan Amil Zakat Nasional, dan Ketua DKM Masjid Raya Al Jabbar.

Dari unsur lintas agama hadir perwakilan Keuskupan, PGI, PGPI, PGLII, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), serta Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).

Dalam sambutannya, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si., menekankan bahwa Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki potensi bencana cukup tinggi sehingga kewaspadaan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting.

Ia menegaskan bahwa penutupan tahun 2025 perlu diisi dengan refleksi, syukur, dan ikhtiar bersama untuk menyongsong 2026 dengan sikap lebih waspada sekaligus optimistis.

"Jawa Barat adalah provinsi yang rawan bencana. Di 27 kabupaten/kota terus kami pantau berbagai potensi kerawanan. Semoga dengan penutup tahun 2025 ini kita diberkahi atas seluruh aktivitas yang sudah dilaksanakan, dan menyambut tahun baru 2026 dengan kesabaran, kewaspadaan, serta semangat memperkuat kebersamaan," ujar Herman Suryatman.

Sekda Jabar juga menyampaikan refleksi singkat mengenai perkembangan Jawa Barat sepanjang 2025, setelah satu tahun periode kepemimpinan Gubernur Kang Dedi Mulyadi (KDM), dengan menyinggung sejumlah capaian pembangunan dan penguatan layanan publik.

Pada kesempatan yang sama, Ustaz Asep Sudarman menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya kolaborasi semua unsur masyarakat dalam menyelesaikan persoalan di Jawa Barat. Ia menilai, sinergi antara ulama, umara, kalangan dermawan, dan kelompok masyarakat kecil menjadi kunci terciptanya masyarakat yang lebih baik.

Dalam ceramahnya, ia mengutip sebuah hadits tentang peran empat kelompok dalam menguatkan peradaban.

"Hebatnya dunia karena empat hal: karena ilmunya para ulama, adilnya para umara, dermawannya orang-orang kaya, dan doanya orang-orang miskin," tutur Ustaz Asep.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama lintas agama yang dipimpin tokoh agama dari enam agama resmi di Indonesia. Perwakilan dari kalangan Islam dipimpin oleh Ustaz Dr. H. Tata Sukayat, M.Ag., Ketua DKM Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat.

Dari unsur Al-Washliyah, hadir Sekretaris Pengurus Wilayah Al-Jam'iyatul Washliyah Jawa Barat, Dr. Dadan F. Ramdhan, M.Pd. Ia menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan ini yang dinilainya sebagai forum penting untuk menjaga kondusivitas sosial di Jawa Barat.

Menurutnya, kegiatan doa bersama lintas agama ini menunjukkan bahwa kerukunan dapat dibangun melalui ruang dialog spiritual yang inklusif.

"Kami mengapresiasi inisiatif Pemprov Jawa Barat yang mengundang berbagai unsur agama untuk berdoa bersama. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk merawat suasana kondusif, mencegah gesekan sosial, dan memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk," ungkap Dr. Dadan F. Ramdhan.

Sementara itu, Dr. Uwes Fatoni, M.Ag., Ketua Bidang Dakwah PW Al-Jam'iatul Washliyah Jawa Barat, menyatakan harapannya agar kegiatan semacam ini tidak berhenti pada seremoni pergantian tahun semata, tetapi menjadi tradisi yang mengiringi agenda pembangunan daerah.

Ia menekankan bahwa kebersamaan lintas agama merupakan modal sosial yang besar bagi pembangunan Jawa Barat.

"Kami berharap kegiatan doa lintas agama ini semakin memperteguh kebersamaan rakyat Jawa Barat dalam membangun daerahnya di tahun 2026. Perbedaan agama dan keyakinan bukan penghalang, tetapi justru kekuatan jika dikelola dengan bijaksana," ujar Dr. Uwes Fatoni.

Bakti KPI untuk Desa, Wujud Nyata Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) melaksanakan kegiatan Bakpau Desa KPI (Bakti KPI untuk Desa) sebagai bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat. Program ini menjadi ruang aktualisasi peran mahasiswa tidak hanya sebagai insan akademik, tetapi juga sebagai agen sosial yang hadir dan berkontribusi langsung dalam kehidupan desa.

Kegiatan Bakpau Desa KPI dirancang dengan pendekatan partisipatif, melibatkan masyarakat setempat dalam berbagai agenda edukatif dan sosial. Mulai dari kegiatan literasi keagamaan, pendampingan anak-anak, hingga diskusi ringan seputar komunikasi dan nilai-nilai sosial keislaman, seluruh rangkaian kegiatan disusun untuk menjawab kebutuhan masyarakat desa secara kontekstual.

Ketua pelaksana Bakpau Desa KPI menyampaikan bahwa program ini merupakan implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Melalui Bakpau Desa, mahasiswa KPI belajar memahami realitas sosial secara langsung, sekaligus menerapkan ilmu komunikasi dan dakwah yang diperoleh di bangku perkuliahan dalam kehidupan nyata.

Antusiasme masyarakat desa terlihat dari partisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan. Kehadiran mahasiswa KPI disambut hangat sebagai mitra belajar dan berdialog, bukan sekadar tamu sementara. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi yang humanis dan persuasif mampu membangun kedekatan emosional antara mahasiswa dan masyarakat.

"Kami sangat seneng dengan kedatangan adik-adik mahasiswa,semoga dengan kedatangan semuanya disini bisa dapat membawah ke bermanfaatan bagi masyarakat di desa ini" Ujar Irwan Salah Satu Prangkat Desa

Melalui Bakpau Desa KPI "Bakti KPI untuk Desa", diharapkan terjalin hubungan berkelanjutan antara kampus dan masyarakat desa. Program ini tidak hanya menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak positif, menumbuhkan semangat kolaborasi, serta memperkuat peran mahasiswa KPI sebagai komunikator dan dai yang peka terhadap realitas sosial.

Reporter : Rizki Hidayat / KPI 5B Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati



Rebutan Kursi di TransJakarta, Kenapa Viral?

"Dek, berdiri aja ya. Yang muda ngalah."

Suara itu muncul dari arah depan, cukup kenceng sampai orang-orang yang tadinya fokus HP langsung nengok.

Si anak muda yang duduk di kursi tengah—kursi biasa, bukan kursi warna khusus—ngangkat kepala.

"Maaf, Bu… ini kursi reguler."

"Reguler juga tetap etika, dong."

Ada yang nyeletuk, "Iya bener, harusnya ngerti."

Tiba-tiba bus jadi terasa sempit, bukan karena penuh, tapi karena atmosfernya.

Anak muda itu menarik napas.

"Saya juga lagi nggak enak badan, Bu. Cuma nggak kelihatan aja."

Hening sebentar.

Lalu muncul bisik-bisik, tatapan, dan… kamera. 

Seseorang mulai merekam. Dan seperti kita tahu, yang begini biasanya berakhir: viral.

Beberapa hari terakhir, media sosial memang ramai memperbincangkan video perselisihan penumpang di bus TransJakarta tentang isu yang sebenarnya klasik: perebutan kursi di transportasi umum.

Netizen terbelah jadi dua kubu:
yang menuntut anak muda "wajib" memberi kursi pada orang yang lebih tua, dan
yang membela penumpang muda karena kursi yang diduduki adalah kursi reguler (non-prioritas), serta mengingatkan bahwa tidak semua kondisi kesehatan terlihat (invisible illness / disabilitas tak terlihat).

Yang sering luput: banyak orang masih rancu soal kursi prioritas vs kursi reguler, dan akhirnya debat melebar ke moralitas padahal akar masalahnya lebih sederhana: aturan + komunikasi + empati.
 
Artikel ini akan jadi "peta" biar kamu paham:
- kursi prioritas itu apa dan siapa yang berhak
- kursi reguler itu gimana aturannya
- gimana bersikap kalau kamu yang butuh kursi / kamu yang lagi duduk

Kenapa Topik Kursi Bisa Jadi Ribut?

Karena kursi itu bukan cuma benda. Di ruang publik, kursi = simbol:
"hak"
"kepantasan"
"kekuatan sosial" (siapa yang berani ngomong, siapa yang disorot)
dan yang paling sering: asumsi

Masalahnya, asumsi orang di transportasi umum sering banget berbasis tampilan:
muda = kuat
tua = selalu butuh
yang kelihatan sehat = pasti sehat

Padahal realitanya nggak sesimpel itu.
Kursi Prioritas vs Kursi Reguler: Bedanya Apa?

1) Kursi Prioritas (Biasanya Warnanya Beda + Ada Tanda)
Kursi prioritas biasanya berada dekat pintu/area depan, warnanya mencolok dan ada penanda. Secara fungsi, ini kursi untuk penumpang yang membutuhkan akses lebih:
Lansia
Ibu hamil
Orang tua/pendamping yang membawa balita
Penyandang disabilitas
Kursi prioritas itu konsepnya akses yang adil. Jadi bukan "siapa paling tua" doang, tapi "siapa yang paling membutuhkan keselamatan dan kenyamanan".

2) Kursi Reguler (Non-Prioritas)
Kursi reguler adalah kursi untuk umum. Biasanya berlaku prinsip: yang dapat duluan, duduk. Tapi bukan berarti etika hilang.
Kursi reguler itu "hak umum", sedangkan kursi prioritas itu "hak berbasis kebutuhan".
Kalau mau dibuat gampang:
Prioritas = kebutuhan
Reguler = kesempatan
Plot Twist yang Sering Dilupakan: Invisible Illness / Invisible Disability
Salah satu pemicu konflik paling besar adalah "miskomunikasi tentang kondisi".

Ada orang yang kelihatan fit, tapi sebenarnya:
nyeri haid parah (dysmenorrhea)
habis operasi (pemulihan)
asma akut / gampang sesak
vertigo, anemia, migrain
cedera otot/sendi yang nggak terlihat kondisi tertentu yang bikin berdiri lama berbahaya
Karena itu, budaya "wajib jelasin sakitmu biar dipercaya" itu problematik. Kita bisa minta pengertian, tapi jangan maksa orang buka privasi.

Etika Realistis: Biar Situasi Adem, Bukan Drama
Kalau kamu duduk (di kursi reguler) dan ada yang minta
Respons paling aman:
Dengar dulu (jangan defensive)
Jawab singkat, jelas, tanpa debat
Contoh:
"Maaf Bu, ini kursi reguler. Tapi kalau Ibu butuh banget, saya bisa bantu cariin kursi lain atau panggil petugas."
"Maaf ya, saya juga sedang kurang sehat jadi perlu duduk. Tapi saya bisa minta bantuan petugas supaya Ibu dapat tempat."

Ini cara ngomong yang nggak mempermalukan siapa pun.

Kalau kamu yang butuh kursi
Cara paling efektif:
minta sopan + spesifik, jangan menyerang
Contoh:
"Maaf kak, boleh saya duduk? Saya hamil / bawa anak / kondisi saya nggak kuat berdiri lama."

Kalau penumpang lain nggak respons atau situasi memanas:
panggil petugas. Debat jarang menang, yang ada capek dan makin panas.

Kalau kamu jadi saksi Jangan jadi bensin. Kalau mau bantu:
"Kak, mungkin bisa dibantu ya. Kalau nggak memungkinkan, kita panggil petugas aja biar aman."

Pelajaran dari Kasus Viral TransJakarta

Kasus viral ini ngasih 3 pelajaran:
- Aturan perlu dipahami, bukan cuma perasaan.
- Banyak orang debat padahal nggak tahu mana kursi prioritas, mana kursi reguler.
- Empati tanpa memaksa orang membuka privasi.

Kamu bisa minta kursi. Tapi kamu nggak berhak menginterogasi kondisi orang.
Cara ngomong itu menentukan hasil.

Kalimat yang sama bisa jadi damai atau jadi viral tergantung nadanya.

Jadi kalau sekiranya kamu tidak dalam kondisi sakit, atau sangat lelah, sedang duduk di transportasi umum seperti Transjakarta berikan jatah kursimub ke orang yang lebih membutuhkan. Simpel tanpa drama.




Vokaloka Beasiswa

Vokaloka Agama

Vokaloka Pendidikan

Vokaloka News

© all rights reserved
made with by templateszoo