Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

NEWS

Indeks →
Memuat NEWS...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Agama

Indeks →
Memuat Agama...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Tokoh

Indeks →
Memuat Tokoh...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Life Style

Indeks →
Memuat Life Style...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Beasiswa

Indeks →
Memuat Beasiswa...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat Terkini...

Terkini

Memuat terkini...

Terkini lanjutan

Memuat berita lanjutan...

28 Tahun Mengabdi: Transformasi Yuli Hapiah dari Era Mesin Tik hingga Membawa SPBE Jabar Juara Nasional

 

Vokaloka, Bandung - Transformasi birokrasi telah dirasakan langsung oleh Yuli Hapiah, S.Sos., M.A.P. sejak tahun 1998. Mengawali karier sebagai CPNS dengan sistem ujian manual, ia melewati era mesin tik hingga teknologi digital. Adaptasi panjang lintas zaman ini membentuk dedikasi dan profesionalitasnya yang luar biasa.

 

Saat ini, Yuli menjabat sebagai Ketua Tim Kelola Bidang E-Government Diskominfo Jawa Barat. Di posisi strategis ini, ia berhasil menorehkan prestasi yang sangat gemilang di tingkat nasional. Yuli dan timnya sukses menjadikan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Jawa Barat sebagai yang terbaik pertama se-Indonesia.

 

Pencapaian SPBE tersebut bukanlah hal yang mudah karena indeks yang diraih menembus angka 4,8 dari skala 5. Angka ini sangat membanggakan karena berhasil melampaui target awal yang diberikan oleh pimpinan. Data yang dinilai pun sangat valid, terverifikasi di lapangan, dan tanpa manipulasi dokumen.

 

Berkat rekam jejak dan kerja keras tersebut, Yuli berhasil masuk sebagai kandidat ajang penghargaan Employee of The Month (EOTM). Ia terpilih melalui sistem vote dari rekan kerja dan tahapan penilaian sistem yang ketat. Saat ini, ia tengah berjuang di tahap wawancara tingkat rumpun Asda (Asisten Daerah).

 

Meski prestasinya menjulang, sosok bersahaja ini menolak jika keberhasilan tersebut diklaim sebagai jerih payahnya sendiri. "Kita bukan superman, tapi super team," tegas Yuli merespons pencapaian tersebut. Ia sangat memegang teguh prinsip orang Sunda yaitu "kudu pabarengan" atau segala sesuatunya harus dikerjakan bersama-sama.

 

Prinsip kebersamaan ini juga ia terapkan secara makro dalam membina 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Baginya, seluruh daerah di Jawa Barat berada di dalam satu perahu pergerakan yang sama. Provinsi tidak boleh maju sendirian sementara kabupaten atau kota lainnya tertinggal di belakang.

 

Dalam mengelola tim inti, Yuli dihadapkan pada tantangan keberagaman latar belakang budaya dan antargenerasi. Timnya terdiri dari berbagai suku serta gabungan antara pegawai senior, generasi Milenial, hingga Gen Z. Ia sadar betul bahwa setiap karakteristik orang membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda-beda.

 

Sebagai pemimpin, Yuli selalu mengedepankan empati, kemanusiaan, serta tata titi atau sopan santun. Ia tidak pernah memaksakan pekerjaan saat rekan kerjanya sedang sibuk, gelisah, atau sakit. Kebiasaan kecil seperti meminta izin sebelum berdiskusi selalu ia terapkan demi menjaga rasa saling menghargai (respect).

 

Walau telah puluhan tahun mengabdi, semangat Yuli untuk terus belajar tidak pernah padam termakan usia. Ia tidak segan bertanya kepada rekan yang lebih muda untuk beradaptasi menggunakan Canva dan Google Drive. Baginya, perkembangan teknologi digital yang begitu cepat mengharuskannya untuk terus menyesuaikan diri.

 

Di luar perannya sebagai ASN dari pukul 08.00 hingga 16.00, Yuli tetap memikul tanggung jawab penuh sebagai seorang ibu. Semua peran dan rintangan ia hadapi dengan kedewasaan, sebab marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah. Dengan kolaborasi dan komitmen tanpa ego pribadi, ia membuktikan pekerjaan seberat apa pun pasti bisa terselesaikan.

Reporter : Selvi Selviana/KPI 5B

Pemprov Jabar Luncurkan Peta Jalan Ekonomi Sirkular Tekan Darurat Sampah

 

Vokaloka, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi meluncurkan Peta Jalan Ekonomi Sirkular dan Program FLOWER di Bandung pada Selasa (29/9/2026). Langkah strategis ini diambil guna merespons status darurat sampah yang kini melanda 23 dari 27 kabupaten dan kota di wilayah tersebut. 


Deputi Bidang Pangan, SDA, LH Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, menyatakan peluncuran ini bertepatan dengan International Day of Awareness of Food Loss and Waste. Bappenas memproyeksikan pemborosan pangan Indonesia bisa melonjak hingga 344 kg per kapita pada 2045. 


Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Jabar, Sumasna, mengungkapkan bahwa 45 hingga 50 persen tumpukan sampah di Bandung Raya didominasi sisa makanan. Penerapan ekonomi sirkular diharapkan mampu menekan angka tersebut sekaligus mendongkrak PDB nasional. 


Peluncuran program ditandai dengan penandatanganan Surat Komitmen Provinsi Jawa Barat oleh Sumasna yang diserahkan kepada perwakilan Bappenas. Prosesi simbolis juga dilakukan dengan melepaskan produk dari tujuh sektor prioritas ekonomi sirkular ke dalam kotak khusus.

 

Tujuh sektor prioritas yang menjadi fokus implementasi ekonomi sirkular di Jawa Barat meliputi industri pangan, plastik, dan elektronik. Selain itu, sektor konstruksi, tekstil, otomotif, serta kertas juga menjadi target utama pembenahan. 


Perwakilan Bappeda Jabar, Eka Jatnika Sundana, menegaskan target pertumbuhan ekonomi daerah ditargetkan mencapai 7,95 persen pada 2029. Namun, ia mengingatkan pertumbuhan tersebut harus seiring dengan upaya menekan emisi industri Jawa Barat yang saat ini mencapai 34,5 persen. 


Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat mencatat timbulan sampah harian mencapai 25.000 ton. Maria Dian Nurani dari DLH menyebut pengelolaan sampah organik menggunakan maggot terbukti mampu menurunkan emisi gas rumah kaca secara terukur. 


Di sektor industri, perwakilan Disperindag Jabar, Doni Ravian, menyoroti tingginya konsumsi energi industri tekstil. Merespons hal tersebut, Beta Safitrie dari PT Jababeka Infrastruktur memastikan kawasannya telah menerapkan konsep Eco Industrial Park dan pengolahan sampah organik. 


Akademisi ITB, Prof. Emenda Sembiring, memvalidasi pendekatan sirkular ini melalui hukum kekekalan massa. Ia menjelaskan bahwa simulasi tumpukan sampah organik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat dikonversi menjadi data terukur terkait besaran emisi karbon. 


Implementasi nyata turut dipamerkan oleh inovator lokal dalam pameran mini di akhir acara. Risma Indriyani mengolah pelepah pisang menjadi material bernilai, sementara Adi Reza Nugroho dari MYCL memamerkan sepatu berbahan kulit jamur dan tas dari rumput laut. 


Reporter : Selvi Selviana/KPI5B

MTKD KUA Ujung Berung Bekali Ibu-Ibu dengan Strategi Belajar Mengajar melalui Pembelajaran Tingkat Tiga

 

VOKALOKA, Bandung – Kantor Urusan Agama (KUA) Ujung Berung kembali melaksanakan kegiatan pembelajaran keagamaan melalui program Majelis Taklim Konversi Diniyah (MTKD) pada Senin (02/11/2026). Kegiatan ini diikuti oleh ibu-ibu yang tergabung dalam kelas tingkat tiga dengan materi strategi belajar mengajar yang berfokus pada penerapan metode pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran tersebut diisi oleh Dr. Imas Kurniasih, M.Ag., yang membahas pentingnya strategi belajar mengajar sebagai bagian dari penguatan kemampuan peserta dalam memahami sekaligus menyampaikan pengetahuan agama. Materi ini menjadi salah satu upaya untuk membekali peserta dengan keterampilan mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama mengikuti program Konversi Diniyah.

Strategi belajar mengajar merupakan aspek penting dalam proses pendidikan karena tidak hanya menitikberatkan pada penguasaan materi, tetapi juga kemampuan menyampaikan pengetahuan secara efektif dan mudah dipahami. Melalui pembelajaran ini, peserta diperkenalkan pada pentingnya memilih pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik orang yang menerima pembelajaran.

Program Majelis Taklim Konversi Diniyah memiliki tiga tingkatan kelas dengan materi pembelajaran yang disusun secara bertahap. Pada tingkat tiga, pembelajaran diarahkan pada penguatan kemampuan peserta dalam mengaplikasikan pengetahuan keagamaan, sehingga ilmu yang diperoleh tidak hanya menjadi pemahaman pribadi, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Keterlibatan ibu-ibu dalam pembelajaran ini menunjukkan bahwa proses pendidikan keagamaan memiliki peran penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Melalui pemahaman strategi belajar mengajar, peserta diharapkan mampu menjadi bagian dari proses penyampaian nilai-nilai keislaman secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa majelis taklim tidak hanya berfungsi sebagai tempat menerima ilmu agama, tetapi dapat berkembang menjadi ruang pemberdayaan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh peserta berpotensi menjadi bekal dalam mendidik keluarga, membimbing generasi muda, serta menumbuhkan budaya belajar di lingkungan sosial.

Melalui pembelajaran strategi belajar mengajar, MTKD KUA Ujung Berung diharapkan terus melahirkan peserta yang tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan, tetapi juga kemampuan mengimplementasikan dan menyampaikan ilmu secara bermanfaat. Dengan demikian, pendidikan agama tidak berhenti pada proses memperoleh pengetahuan, melainkan berlanjut menjadi praktik nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

Reporter: Rihan Al Lail/KPI 5B

KUA Ujung Berung Perkuat Pemahaman Nilai Kehidupan melalui Pembelajaran Mahfuzhat bagi Ibu-Ibu

 

VOKALOKA, Bandung – Kantor Urusan Agama (KUA) Ujung Berung kembali menyelenggarakan kegiatan pembelajaran keagamaan melalui program Majelis Taklim Konversi Diniyah (MTKD) pada Senin (02/11/2026). Kegiatan ini diikuti oleh ibu-ibu yang tergabung dalam kelas tingkat dua dengan materi mahfuzhat, yakni ungkapan-ungkapan hikmah berbahasa Arab yang mengandung pesan moral dan nilai kehidupan.

Pembelajaran tersebut diisi oleh Fahmi Ayatullah Assidiki, S.Ag., M.Sos., yang membawakan materi mahfuzhat sebagai bagian dari penguatan pemahaman peserta terhadap nilai-nilai kebijaksanaan dalam ajaran Islam. Materi ini menjadi sarana untuk mengenalkan berbagai ungkapan bermakna yang dapat dijadikan pedoman dalam membentuk karakter dan perilaku sehari-hari.

Mahfuzhat merupakan salah satu bentuk pembelajaran bahasa Arab yang tidak hanya menekankan kemampuan menghafal, tetapi juga memahami makna serta pesan yang terkandung dalam setiap ungkapan. Melalui materi ini, peserta dapat mengenal nilai-nilai seperti kesabaran, kedisiplinan, semangat menuntut ilmu, dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama.

Program Majelis Taklim Konversi Diniyah sendiri memiliki tiga tingkatan kelas yang disusun untuk memberikan pembelajaran agama secara bertahap. Pada tingkat dua, pembelajaran mahfuzhat menjadi salah satu materi yang dapat memperluas wawasan keislaman sekaligus memperkenalkan nilai-nilai kehidupan melalui ungkapan bahasa Arab.

Kehadiran ibu-ibu dalam kegiatan ini mencerminkan pentingnya pendidikan keagamaan yang berkelanjutan tanpa memandang usia. Majelis taklim tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga wadah bagi masyarakat untuk memperkuat pemahaman agama dan menumbuhkan kesadaran dalam mengamalkan nilai-nilai Islam.

Melalui pembelajaran mahfuzhat, MTKD KUA Ujung Berung diharapkan terus menjadi sarana pendidikan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Ungkapan-ungkapan hikmah yang dipelajari bukan sekadar untuk dihafalkan, melainkan juga dipahami dan dijadikan pedoman dalam membangun kehidupan yang berlandaskan ilmu, akhlak, dan kebijaksanaan.

Reporter: Rihan Al Lail/KPI 5B

KUA Ujung Berung Gelar Pembelajaran Kisah para Nabi dalam Program Konversi Diniyah

 

VOKALOKA, Bandung – Kantor Urusan Agama (KUA) Ujung Berung kembali melaksanakan kegiatan pembelajaran keagamaan melalui program Majelis Taklim Konversi Diniyah (MTKD) pada Senin (02/11/2026). Kegiatan ini diikuti oleh ibu-ibu kelas tingkat satu dengan materi tarikh atau sejarah Islam yang berfokus pada kisah perjuangan Nabi Nuh AS.

Pembelajaran tersebut diisi oleh Nandang Kusnandar, S.Ag., M.M., yang menyampaikan kisah Nabi Nuh AS dalam menjalankan tugas kenabiannya. Materi ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sejarah para nabi sekaligus menanamkan nilai-nilai keimanan, kesabaran, dan keteguhan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Kisah Nabi Nuh AS memberikan gambaran mengenai perjuangan seorang rasul dalam mengajak umatnya menuju jalan kebenaran. Meskipun menghadapi berbagai bentuk penolakan, Nabi Nuh tetap menunjukkan keteguhan dan kesabaran dalam menyampaikan ajaran Allah SWT.

Melalui pembelajaran tarikh tersebut, para peserta diajak untuk memahami bahwa sejarah para nabi bukan sekadar rangkaian peristiwa masa lalu, melainkan sumber pembelajaran moral dan spiritual yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Program Konversi Diniyah menjadi salah satu wadah pendidikan keagamaan bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu yang ingin memperdalam pemahaman Islam secara bertahap dan terstruktur. Pada kelas tingkat satu, pembelajaran diarahkan untuk memperkuat dasar pengetahuan keislaman sebagai bekal dalam kehidupan keluarga maupun lingkungan sosial.

Melalui kegiatan ini, KUA Ujung Berung diharapkan terus menjadi ruang pembelajaran agama yang inklusif dan berkelanjutan. Kisah Nabi Nuh AS yang disampaikan tidak hanya menjadi pengetahuan sejarah, tetapi juga pengingat tentang pentingnya menjaga keimanan, merawat kesabaran, dan mempertahankan keteguhan dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Reporter: Rihan Al Lail/KPI 5B

Bea Cukai Bandung Musnahkan 1,19 Juta Batang Rokok Ilegal Senilai Rp1,77 Miliar di Soreang

Uploaded Image
Vokaloka, Bandung – Bea Cukai Bandung bersama Pemerintah Kabupaten Bandung memusnahkan sebanyak 1.190.000 batang rokok ilegal hasil penindakan sepanjang 2026. Kegiatan pemusnahan Barang Kena Cukai (BKC) ilegal tersebut berlangsung di Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bandung, Soreang, Selasa (3/11/2026).

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean A Bandung, Sutikno, menyampaikan bahwa barang yang dimusnahkan merupakan hasil penindakan melalui sinergi Bea Cukai Jawa Barat, Bea Cukai Bandung, Satpol PP Kabupaten Bandung, serta aparat penegak hukum lainnya.

"Barang kena cukai hasil tembakau yang dimusnahkan sejumlah 1.190.000 batang dengan nilai barang mencapai Rp1.774.000.000, serta memiliki potensi penerimaan negara sebesar Rp891 juta sekian," ujar Sutikno.

Ia menjelaskan bahwa pemusnahan dilakukan melalui dua tahapan. Prosesi yang berlangsung di halaman Kantor Satpol PP Kabupaten Bandung merupakan pemusnahan secara simbolis. Selanjutnya, seluruh barang akan dibawa ke PT Jasa Medivest di Dawuan, Kabupaten Karawang, untuk dimusnahkan menggunakan fasilitas insinerator dengan memperhatikan aspek lingkungan.

Sutikno menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen Bea Cukai dalam melindungi masyarakat, industri, dan perdagangan dalam negeri sekaligus mengamankan penerimaan negara. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga penerimaan cukai di Jawa Barat yang memiliki target cukup besar pada 2026.

"Target penerimaan cukai untuk Jawa Barat mencapai Rp30 triliun, dan Rp29 triliun di antaranya berasal dari cukai rokok. Sampai hari ini, realisasinya sudah mencapai Rp27,5 triliun," jelasnya.

Menurut Sutikno, peredaran rokok ilegal yang semakin masif dapat mengganggu keseimbangan pasar dan berdampak terhadap penerimaan negara. Oleh karena itu, koordinasi antara pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan masyarakat perlu terus diperkuat.

Sementara itu, Bupati Bandung, Dadang Supriatna, menilai kondisi geografis Kabupaten Bandung menjadi salah satu tantangan dalam pengawasan peredaran rokok ilegal. Wilayah Kabupaten Bandung yang berbatasan dengan sejumlah daerah dinilai mempermudah masuknya rokok ilegal dari wilayah lain.

"Wilayah Kabupaten Bandung ini sangat luas dan berbatasan dengan beberapa wilayah kabupaten/kota. Sehingga para pengusaha atau pengiriman rokok ilegal ini sangat mudah untuk masuk," ungkap Dadang.

Ia juga mengapresiasi kinerja Satpol PP dan kepolisian yang telah melakukan penyitaan serta mempersiapkan proses pemusnahan rokok ilegal. Menurutnya, pengawasan perlu terus diperkuat melalui kerja sama antarlembaga serta sosialisasi kepada masyarakat.

Kepala Satpol PP Kabupaten Bandung, Uwais Qorni, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen dan sinergi Pemerintah Kabupaten Bandung bersama Bea Cukai Bandung dan instansi terkait dalam memberantas peredaran barang kena cukai ilegal.

Melalui kegiatan ini, pengawasan dan penindakan terhadap peredaran barang kena cukai ilegal diharapkan dapat terus ditingkatkan. Selain memberikan efek jera kepada para pelanggar, upaya tersebut juga bertujuan meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap ketentuan cukai serta menciptakan iklim usaha yang sehat dan berkeadilan.

Reporter : Haikal Faliqul Ilhafa / KPI 5B

Menepi ke Selatan: Saat Suara Ombak Mengalahkan Riuh Keramaian

Uploaded Image
Vokaloka, Cianjur - Perjalanan ini tidak dimulai dari pantai, melainkan dari sebungkus nasi padang. Sabtu malam, 1 Agustus 2026, pukul 19.30, saya berangkat bersama seorang teman menuju kostannya di kawasan Bojongloa Kidul, Kota Bandung. Di tengah jalan kami singgah membeli nasi padang, yang kemudian kami santap bersama setibanya di kostan. Setelah bersih-bersih, kami tidur. Malam itu terasa sederhana, tetapi justru itulah awal yang pas untuk perjalanan panjang keesokan harinya.

Rombongan kami berempat: saya, seorang teman, kakak perempuan saya, dan pacarnya. Kami berbagi dua motor. Saya dibonceng teman saya, sedangkan kakak saya bersama pacarnya. Tujuan kami adalah Pantai Cemara Cidamar Cidaun, yang berlokasi di Jalan Cipanglay, Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pantai di pesisir selatan ini jaraknya cukup jauh dari Bandung, dan kami sadar bahwa hari esok akan dihabiskan sebagian besar di atas jok motor.

Minggu, 2 Agustus 2026, pukul 05.00 pagi, kami mulai bergerak dari Bojongloa Kidul. Jalanan masih lengang, dan angin pagi yang dingin langsung menerpa. Belum jauh berjalan, perut saya mulas karena angin pagi. Saya hanya bisa menahannya sambil berharap sarapan segera datang. Harapan itu terwujud ketika kami tiba di Alun-Alun Ciwidey, tempat kami menyantap nasi kuning hangat sambil meluruskan badan. Suapan pertama pagi itu terasa seperti obat.

Memasuki kawasan Rancabali, perjalanan berubah menjadi lebih menyenangkan. Di setiap tikungan, tampak para fotografer yang rutin berjaga setiap akhir pekan, siap mengabadikan para pengendara yang lewat. Kami pun tergoda. Hampir di tiap tikungan, kami berpose untuk diabadikan. 
Perjalanan yang seharusnya hanya berpindah tempat berubah menjadi sesi foto berantai di jalan pegunungan dan hamparan kebun teh yang sejuk. Kami tertawa-tawa, lupa bahwa tujuan sebenarnya masih jauh di depan.

Namun kesejukan itu lama-lama berubah menjadi masalah. Menjelang akhir jalur Rancabali, udara dingin mulai menusuk. Pakaian yang saya kenakan ternyata kurang layak untuk daerah sedingin itu. 
Tangan saya sampai membiru keunguan karena kedinginan, hingga sulit rasanya menggenggam setir motor dengan nyaman. Kami akhirnya berhenti di sebuah warung untuk memesan minuman hangat dan menghangatkan tangan, dan tentu saja berfoto sebentar lagi. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa persiapan, sekecil apa pun, menentukan kenyamanan sebuah perjalanan.

Karena terlalu santai di jalan, kami baru tiba di Pantai Cemara Cidamar Cidaun sekitar pukul 10.00, setelah lima jam berkendara dari Bojongloa Kidul. Waktu itu lebih lambat dari rencana, tetapi tidak ada yang menyesal. Kami memarkir motor, berjalan sebentar menuju loket tiket, lalu menyewa tikar. Setelah menemukan sudut yang nyaman, kami berganti pakaian dan mengabadikan suasana lewat foto dan video. Pantainya cukup bersih, dengan pasir yang halus dan lembut di telapak kaki. Di sekitar area pantai berdiri cukup banyak pohon yang daunnya bergemerisik tertiup angin, berpadu dengan aroma khas laut yang langsung terasa begitu kami melangkah mendekat.

Setelah puas berdokumentasi, kami turun bermain di tepi laut. Airnya jernih, dan ombaknya tergolong besar, bergulung lalu pecah dengan suara gemuruh yang memenuhi telinga. Angin bertiup cukup kencang hingga terasa mengelebuk, tetapi hawa panas pantai tetap menempel di kulit, perpaduan yang unik dan sulit dijelaskan. Kami bermain air, bermain pasir, dan bercanda dengan anak-anak kecil yang sedang membangun istana pasir. Tawa mereka menambah semarak siang itu dan membuat kami ikut merasa seperti anak-anak lagi.

Tidak lama kemudian, kami menemukan permainan baru: berburu kepiting-kepiting kecil di pasir basah. Kami menunduk, mengamati gerakan mereka yang gesit, lalu mencoba menangkapnya dengan tangan yang masih basah oleh air laut. Tangan saya geli ketika makhluk-makhluk mungil itu merayap di telapak tangan. Hal-hal kecil seperti ini yang jarang kami temukan di kota, dan justru yang paling mudah diingat.

Di sela bermain, kami mengisi perut. Saya dan teman saya memilih pop mie, sementara kakak saya dan pacarnya menyantap ayam penyet. Menyeruput kuah panas di tepi pantai yang berangin ternyata punya sensasi tersendiri. Makanan yang sederhana terasa istimewa karena kami menyantapnya sambil memandangi ombak yang tak pernah berhenti datang.

Di tengah keramaian itu, ada satu momen yang paling membekas bagi saya. Ketika berdiri menghadap ombak, saya merasa tenang. Di antara udara yang panas dan suara ombak yang menggemuruh, tiba-tiba terpikir bahwa mendengarkan deru laut jauh lebih menyenangkan daripada mendengarkan suara manusia. Suara ombak tidak menuntut jawaban, tidak menghakimi, dan tidak meminta saya berkata apa-apa. Saya berdiri kecil di hadapan hamparan laut, dan untuk sesaat dunia terasa sunyi meski ombak tak berhenti bersuara.

Selama di sana kami tidak sempat mengobrol panjang dengan siapa pun. Kami hanya bertemu penjaga loket, para pedagang, dan warga setempat. Namun kehadiran mereka cukup memberi rasa bahwa pantai ini hidup, bahwa di balik keindahan yang kami nikmati ada orang-orang yang setiap hari menjaga dan merawatnya.
Sekitar pukul 15.00, setelah mandi dan berganti pakaian, kami memulai perjalanan pulang. Di kawasan Cidaun, jalan menanjak dan berkelok membentuk huruf S. Motor saya sempat tidak kuat menanjak. Ada rasa tegang yang menumpuk selama beberapa saat, sampai akhirnya motor berhasil melewati tanjakan itu. Begitu berhasil, saya menangis karena campuran lelah, tegang, dan lega.

Kami berhenti cukup lama di sebuah Alfamart, menunggu saya selesai menangis dan tenang kembali. Tidak ada yang mengeluh atau tergesa-gesa. Momen itu menunjukkan bahwa dalam perjalanan bersama, kesabaran teman seperjalanan sama pentingnya dengan tujuannya.
Setelah empat jam di jalan, sekitar pukul 19.00 kami tiba di rumah pacar kakak saya di kawasan Cimindi. Malam itu kami menutup hari dengan semangkuk cuanki yang rasanya luar biasa nikmat, terasa lebih nikmat karena datang setelah hari yang panjang dan melelahkan. Setelah itu kami tidur, dan badan yang pegal seakan mendapat hadiah terbaiknya.

Keesokan paginya, Senin, 3 Agustus 2026, kami sarapan terlebih dahulu. Pukul 10.00 kami berpamitan dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah di daerah Nagreg, yang saya capai sekitar pukul 12.00 siang, dua jam kemudian. Perjalanan panjang itu pun resmi berakhir, meninggalkan badan yang lelah tetapi kepala yang penuh cerita.

Perjalanan ke Pantai Cemara Cidamar Cidaun mengajarkan saya bahwa sebuah tujuan tidak berdiri sendiri. Ia dibentuk oleh nasi padang di malam sebelumnya, tangan yang membiru di Rancabali, tawa anak-anak di tepi pantai, dan air mata di tanjakan Cidaun. Pantainya indah, tetapi yang membuat perjalanan ini autentik adalah semua yang terjadi di antaranya.

Reporter: Dewi Puji Astuti

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Tokoh

Tokoh

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka